Pertemuan Orangtua Siswa, Ketua Yayasan LDII Nurhasan Insan Mulia Ingatkan 5 Pilar Pendidikan Karakter Usia Dini
Tarakan, (17/6)— Pendidikan anak usia Sekolah Dasar tidak bisa hanya diandalkan pada pelajaran di dalam kelas semata. Pembentukan karakter dan akhlak yang kuat harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah.
Hal ini ditegaskan secara tegas oleh Ketua Yayasan LDII Nurhasan Insan Mulia, H. Jaet Ahmad Fatoni, dalam pertemuan bersama wali murid jenjang SD se-yayasan yang digelar pada Rabu (17/6/2026).
Menurut beliau, untuk membentuk anak yang berkarakter mulia, diperlukan sinergi dari 5 pilar utama yang saling melengkapi:
✅ Masjid – melalui peran takmir dan pengurusnya
✅ Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPA) – melalui bimbingan para guru ngaji
✅ Sekolah (TK dan SDIT Baitul Ilmi) – melalui bimbingan tenaga pendidik
✅ Lingkungan Masyarakat – melalui kepedulian dan keteladanan warga sekitar
✅ Rumah Tangga – dengan orang tua sebagai madrasah pertama dan utama
“Jenjang SD bukan sekadar tempat memindahkan pelajaran hitung-menulis. Lebih dari itu, SD adalah masa emas untuk menanamkan adab dan sopan santun,” ujar H. Jaet.
Beliau mengibaratkan anak usia 7 hingga 12 tahun bagaikan spons yang masih sangat mudah menyerap apa saja yang dilihat dan didengar.
“Yang pertama kali diserap bukan rumus matematika atau bacaan, melainkan cara ayah berbicara kepada ibu, atau bagaimana ibu bersikap saat menghadapi masalah. Itulah yang akan mereka tiru seumur hidup,” jelasnya.
Tiga Tugas Utama untuk Orang Tua Dalam kesempatan itu, H. Jaet menyampaikan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian setiap orang tua di rumah:
1. Jadikan Rumah Sebagai Sekolah Adab“Sebelum bertanya ‘apakah PR sudah dikerjakan?’, biasakan bertanya lebih dulu: ‘Apakah sholat sudah dilaksanakan? Apakah bersikap sopan kepada saudara?’ Nilai akademik setinggi apa pun tidak akan berarti jika tidak disertai akhlak yang baik. Rasulullah ﷺ pun mengajarkan: ‘Tuhanku mendidikku, lalu Dia perbagus adabku’,” tegasnya.
2. Bangun Kerja Sama, Bukan Persaingan Antara Rumah dan SekolahOrang tua diminta untuk tidak langsung membela anak jika mendapatkan teguran dari guru.
“Tanyalah terlebih dahulu apa kesalahannya. Jika rumah selalu membenarkan anak, maka ia akan merasa berkuasa di rumah dan tidak menghargai orang lain di lingkungan sekolah. Kita harus satu suara,” tambahnya.
3. Jangan Jadikan Gawai Sebagai Pengganti PengasuhanBeliau mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa kebaikan hati tidak cukup menjamin masa depan anak.
“Banyak anak yang pandai mengoperasikan gawai atau menghafal ayat Al-Qur’an, namun enggan menyapa atau mencium tangan orang tua. Gantilah waktu 30 menit bermain gawai dengan mengobrol ringan atau beraktivitas bersama. Itu investasi karakter yang tidak ternilai harganya,” pesannya.
Pesan Emas untuk Keluarga Sebagai penutup, Ketua Yayasan menyampaikan tiga kalimat sederhana namun penuh makna yang bisa selalu diingatkan kepada anak:
🔹 “Nak, yang terpenting adalah jujur” – tanamkan kebenaran sebelum pengetahuan
🔹 “Nak, meminta maaf itu tanda kebesaran hati” – ajarkan rendah hati dan rasa hormat
🔹 “Nak, laksanakan kewajiban kepada Allah terlebih dahulu sebelum menikmati hiburan dunia.
“Ingatlah, anak-anak lebih banyak meniru daripada mendengarkan nasihat. Jika kita bersikap sabar, mereka akan belajar sabar. Jika kita berbicara santun, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang santun. Ijazah sekolah nanti hanya selembar kertas, namun akhlak yang dibangun sejak dini adalah bekal yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Membangun generasi emas adalah tugas kita bersama,” pungkasnya. (*)
