Berita Daerah, dakwah, Warta LDII Kaltara

Mendukung Pernyataan Ketum DPP LDII, Ketua DPW LDII Kaltara Tanamkan Nilai Pancasila Bagi Kehidupan Bermasyarakat

Tarakan (1/6) – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Provinsi Kalimantan Utara, H. Jaet Ahmad Fatoni, S.H., M.H., menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan terletak pada melemahnya rumusan ideologi negara. Persoalan utamanya justru terletak pada pengamalan dan pelaksanaan nilai‑nilai Pancasila dalam kehidupan sehari‑hari.

Menurutnya, berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga budaya yang belakangan ini muncul, nyata menunjukkan masih adanya kesenjangan dan jarak yang cukup lebar antara nilai‑nilai luhur Pancasila dengan kenyataan serta praktik yang berlangsung di tengah masyarakat.

H. Jaet Ahmad Fatoni menjelaskan bahwa menguatnya sikap individualisme, maraknya sikap intoleransi, penyebaran berita bohong atau hoaks, polarisasi politik yang tajam, serta menurunnya etika dan kesopanan dalam ruang publik, menjadi indikasi nyata bahwa upaya menghidupkan dan mengamalkan Pancasila memerlukan penguatan yang serius, terarah, dan berkelanjutan. Ia menilai perkembangan teknologi informasi yang berjalan begitu pesat kerap kali tidak diimbangi dengan penguatan karakter kebangsaan dan peningkatan moralitas masyarakat.

“Pancasila sejatinya bukan sekadar hafalan di buku pelajaran, atau sekadar simbol dan seremonial formal kenegaraan semata. Pancasila harus benar‑benar hadir dan tercermin dalam perilaku sosial sehari‑hari, cara kita bermasyarakat, hingga menjadi landasan dalam setiap pengambilan kebijakan publik. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana menjadikan nilai‑nilai Pancasila benar‑benar hidup, terasa, dan melekat dalam keseharian seluruh anak bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan, khususnya di era saat ini, Sila Persatuan Indonesia tengah menghadapi tantangan yang cukup berat akibat menguatnya praktik politik identitas dan masih rendahnya tingkat literasi digital masyarakat.

Di sisi lain, Sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti persoalan ketimpangan ekonomi, pemerataan akses pendidikan, serta kesenjangan tingkat kesejahteraan antardaerah maupun antarkelompok masyarakat.

Menurut H. Jaet Ahmad Fatoni, solusi atas berbagai persoalan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa, mulai dari tingkat pusat hingga ke pelosok daerah.

Ia pun menekankan betapa pentingnya memperkuat pendidikan karakter yang berlandaskan nilai‑nilai Pancasila sejak usia dini, yang dilaksanakan secara konsisten di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, hingga lingkungan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa proses pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian prestasi akademik semata, melainkan wajib dibarengi dengan pembentukan moral, etika, akhlak mulia, serta menumbuhkan kembali semangat gotong royong yang merupakan warisan budaya bangsa.

Dalam hal ini, lanjutnya, LDII senantiasa mendorong penguatan budaya dialog yang konstruktif dan sikap saling bertoleransi di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Ia menilai ruang‑ruang interaksi sosial perlu terus diperkuat dan diperluas, agar masyarakat tidak mudah terpecah belah dan terprovokasi oleh perbedaan pandangan politik, suku, golongan, maupun agama.

“Bangsa ini didirikan dan dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Karena itu, budaya saling menghormati, saling memahami, dan berdialog harus senantiasa kita rawat dan pupuk bersama. Jangan sampai perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa, justru berubah menjadi sumber perpecahan dan konflik,” tegasnya.

Di bidang pembangunan ekonomi, H. Jaet Ahmad Fatoni juga menegaskan pentingnya menghadirkan pembangunan yang berkeadilan dan benar‑benar berpihak kepada kesejahteraan masyarakat kecil.

Ia pun mendorong agar terus dilakukan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), penguatan ekonomi kerakyatan, serta pemerataan pembangunan infrastruktur dan akses ekonomi hingga menjangkau daerah‑daerah terpencil dan perbatasan, termasuk seluruh wilayah di Provinsi Kalimantan Utara.

Menurutnya, guna membentuk generasi muda yang benar‑benar menjadi insan Pancasilais yang tangguh, berkarakter, dan berdaya saing, maka keteladanan dari para pemimpin menjadi faktor kunci yang sangat menentukan dalam menghidupkan nilai‑nilai Pancasila.

Ia berpendapat masyarakat akan jauh lebih mudah memahami dan mengamalkan nilai‑nilai kebangsaan apabila para elit politik, tokoh masyarakat, pemuka agama, serta seluruh pejabat publik mampu menunjukkan integritas tinggi, kejujuran, serta memiliki kepedulian sosial yang nyata.

“Keteladanan adalah kunci utama. Nilai‑nilai Pancasila tidak akan pernah terwujud secara efektif hanya lewat seruan, pidato, atau slogan semata. Nilai‑nilai tersebut harus dicontohkan dan dibuktikan dalam tindakan nyata oleh seluruh pemimpin bangsa di setiap lapisan,” ungkapnya dengan tegas.

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, DPW LDII Provinsi Kalimantan Utara menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi aktif dalam memperkuat nilai‑nilai kebangsaan dan persatuan.

“Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pendidikan karakter, dakwah yang moderat dan berwawasan kebangsaan, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai program pemberdayaan umat yang senantiasa berorientasi pada penguatan persatuan, peningkatan kesejahteraan, dan kemajuan bangsa Indonesia tercinta”, tutup H. Jaet. (*)