LDII Kaltara Hadiri Pertemuan Tokoh Lintas Agama di Tarakan, Tekankan Kerukunan Sebagai Modal Indonesia Emas 2045
Tarakan (16/5) – Kota Tarakan kembali menegaskan diri sebagai miniatur kerukunan Indonesia melalui Pertemuan Tokoh Lintas Agama yang digelar di Gedung Serbaguna Pemkot Tarakan pada Jumat ,15 Mei 2026.

Hadir Ketua DPW LDII Provinsi Kalimantan Utara H. Jaet Ahmad Fatoni, S.H.,M.H. Acara dibuka oleh Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan Umat Beragama Dr. H. Gugun Gumilar, M.H., Ph.D. Pembukaan berlangsung khidmat dan penuh makna dengan penampilan Tari Usik Mengusik sebagai simbol ajakan untuk hidup rukun, bukan saling mengusik.
Suasana kebhinekaan semakin terasa saat pembacaan doa dari 6 agama yang ada di Tarakan. Masing-masing diwakili oleh tokoh agamanya, sementara doa untuk agama Islam disampaikan oleh KH. Zainuddin Dalila dan selanjutnya doa dari Agama Kristen Protestan, Katholik , Budha , Hindu dan Konghucu.
Mewakili Walikota Tarakan, H. Alias, SKM., M.Kes.menyampaikan “bahwa Tarakan adalah kota damai meski dihuni oleh enam pemeluk agama berbeda. “Perbedaan ini tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan untuk bersama membangun kota,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Kalimantan Utara, Dr. H. Muhamad Saleh, S.Ag.,M.Pd.I.Menurutnya, Kalimantan Utara adalah miniatur Indonesia karena keberagaman etnis dan agama yang hidup berdampingan. Ia menyebutkan indeks kerukunan umat beragama Kalimantan Utara saat ini berada di urutan pertama dari 38 provinsi.
“Indek kerukunan yang tinggi tidak lepas dari komunikasi dan sinkronisasi antar umat beragama. Kalimantan Utara bukan milik satu agama. Kami juga telah membentuk Satgas Ekoteologi di Kalimantan Utara, malam ini Bapak Staf Khusus akan mengukuhkannya,” jelas Saleh.
*Stafsus Menag: Kaltara Role Model Kerukunan Nasional*
Sambutan yang disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama RI. Ia menyampaikan salam hormat dari Menteri Agama RI dan menyebut Kalimantan Utara sebagai _role model_ kerukunan agama yang bahkan mengungguli Sulawesi Utara.
“Kaltara ini role model kerukunan agama. Saya bangga sebagai salah satu staff Kementerian Agama. Penduduk Indonesia 60% anak muda, dan merekalah tuntutan untuk kemajuan Indonesia. Sekarang pada era Presiden Prabowo yang dilihat bukan senioritas semata, tapi kecerdasan dalam dalam berkontribusi membangun bangsa sangat di perlukan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama berkomitmen menjaga kerukunan umat sebagai syarat mencapai Indonesia Emas 2045.
“Tanpa kerukunan tidak mungkin. Tradisi teologi agama kita jadikan modal untuk membangun bangsa. Dengan dialog, kita bangun modal itu. Sekarang tugas kita menjaga koeksistensi beragama.”
Dalam sambutannya, ia juga menyoroti pentingnya pendidikan keagamaan disemua lini bukan hanya di kota saja , kemudahan izin mendirikan tempat ibadah dalam masyarakat baik masjid gereja atau tempat ibadah yang lain jangan dipersulit kami lebih senang melihat banyak bangunan berupa tempat ibadah dari pada bangunan mall, panti pijat , karoke dan sejenisnya, yang tidak kalah pentingnya para jamaah / warga bisa menjaga kebersihan tempat ibadah sebagai bagian dari pengamalan agama.
“Toleransi adalah attitude. Jangan mendemo agama lain atau mengganggu ibadah orang lain. Ada UU dalam KUHP KUHAP Pasal 31 dan 35 dengan sanksi pidana kalau sampai merusak sarana ibadah. Orang yang paling tinggi ilmunya, dia paling toleran,” ujarnya mengutip Quraish Shihab.
“Menuju negara besar harus dimulai dari sekarang, dengan generasi muda yang unggul, yang mau kerja keras, bukan hanya pintar,” tutupnya.
Acara ditutup dengan harapan bersama agar Tarakan dan Kalimantan Utara terus menjadi contoh kerukunan bagi seluruh Indonesia. (*)
